Tentang cerita yang telah lalu.

Assalamu’aikum sahabat.

Setelah sekian lama nimas vakum dari blog ini alhamdulillah nimas masih diberi kesempatan kembali untuk merangkai kata lagi, uhuuuy.
Kali ini nimas mau cerita tentang indahnya dan nikmatnya sebuah perjuangan. Mungkin perjuangan nimas ini belum ada apa-apa dibanding perjuangan sahabat sekalian.
Kalian pejuang UN? Pejuang SBMPTN? Pejuang UM/SM? Apa pejuang cinta?  Bolehlah singgah sejenak.

Saat itu aku mengalami masa sulit, masa saat berada di titik nadhir dalam hidup. Tepatnya setelah lulus SMA. Masih teringat jelas dimana sibuk sibuknya ‘cari kuliah’. Pengennya sih kuliah diitu, jurusan itu. Aku coba tes ini, tes itu ternyata gagal, tapi perjuanganku tak berhenti. Kucoba lagi tes ini tes itu, lagi lagi belum rezekiku, aku mulai panik.

Aku pikir aku terlalu ‘pede’ untuk memaksakan kehendak yg aku mau. Aku mulai sadar aku sangat fakir pengetahuan dengan mencoba hal baru, belajar juga cuma sebulanan, aku pun sadar aku telah memaksa Allah untuk mengabulkan doaku, doa yg mungkin bukan terbaik untukku. (Nimas dari IPA tapi ambil Soshum hehe)
Aku mulai menangis setiap malam dengan menatap langit-langit kamar, dimana banyak tulisan semangat disana.

Di titik seperti itu, aku hanya merasa bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa menolongku hanyalah Allah. Saat itu hanya satu yg dapat aku lakukan, doa doa dan doa. Pernah saat itu aku lolos tes salah satu perguruan tinggi dengan ranking 11 dari 73 siswa yg lolos, aku sangat senang bahkan mama dan ayah pun ikut senang, tapi tes itu masih berlanjut di tes ke-2, tes kesehatan. Saat itu aku menyatakan, nggakpapa nimas kan termasuk ranking atas, insyaAllah lolos. Tapi hasil, justru sebaliknya.

Aku menangis sejadi-jadinya, aku tau aku penyakitan tapi penyakitku tergolong normal. Aku pun mulai menyalahkan Allah, kenapa aku di’php’ Allah. Aku putus asa, dan selalu murung. Astaghfirullah, aku sekarang sadar, betapa sombongnya diriku, kenapa aku suudzon sama Allah.

Jika Allah tidak mau mengabulkan doa dari seorang pendosa seperti aku. Kenapa Allah juga tidak mengabulkan doa yg tulus ikhlas terucap dari orang tuaku, mereka juga ingin anaknya kuliah. Beruntung aku punya mereka, mereka terus mengingatkanku, menyemangatiku, dan mengusap air mataku. Mama bilang, jangan suudzon sama Allah, usaha sama doa ditambah, solatnya tepat waktu, tahajud sama duha nya jangan lupa mama terus doain buat kamu, mama pengen kamu kuliah di jogja, nemenin mama.

Ayah bilang, ayah nggak suka anaknya sedih sedih terus, nangis terus, stres terus, cari ilmu bukan cuma lewat universitas dek, berdoa terus ya. Perjuanganku tak berhenti, alhamdulillah aku punya mama dan ayah yg terbaik sedunia. Aku harus memperbaiki niat, iya bukan karena aku pengen ini itu. Tapi niat cari ilmu lillahita’ala. Aku sadar ternyata aku lupa bersyukur dengan nikmat yg telah Allah berikan, nikmat kedua orang tua yg mengerti aku, bisa nyobain tes ini itu, sahabat sahabat yg selalu nasehatin aku, dan banyak nikmat lain yg aku lupakan.

Alhamdulillah dari kurang lebih 6x tes gagal, Allah mengabulkan doaku dites yg terakhir, ujung penantian.

Malam sebelum pengumuman aku kembali menangis, aku mulai terbiasa kecewa, dan takut berharap lebih. Memohon kepada Allah setidaknya ikhlaskan hatiku jika memang belum tahun ini rezekiku, aku juga memohon semoga aku istiqomah dalam berdoa lillahita’ala. Tapi ternyata keesokan harinya, masyaAllah namaku ada di koran, dibagian daftar calon mahasiswa baru. Ya Allah, saat mengingat kembali hari itu, rasanya aku sangat menyesal. Betapa aku merepotkan mereka, betapa mereka begitu sabar memiliki anak sepertiku.

Aku malu pada Allah, kesombonganku terlalu menggebu, bahkan aku sempat ragu dengan janji Allah. Aku teringat kisah Nabi Nuh yg terus berdoa hingga umatnya mengikuti jalan yg benar. Ada juga kisah Nabi Zakaria harus meminta 60 tahun untuk meminta keturunan. Bahkan Nabi Muhammad SAW selalu berdoa dalam menyiarkan agama islam. Doa para kekasih Allah itu pun tertangguhkan.

Tapi, nimas yg berlumur dosa, giat ibadah ‘cuma pas ada maunya’, bahkan sampai meragukan janji Allah pun pas doa belum terkabul justru marah. Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman pada malaikat, “Di sana ada hamba-Ku yang pendosa sedang berdoa, Kukabulkan doanya, karena Aku muak mendengarnya. Sedangkan di sana ada hamba-Ku yang beriman sedang berdoa, tangguhkan doanya, karena Aku senang mendengar rintihannya.” Sahabat, ini yg perlu digaris bawahi tentang cerita nimas. cobalah berkhusnudzon dengan Allah.

Jangan ragukan janji Allah (Al Mukmin:60) “Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu”

Bahkan Rasulullah menegaskan dalam sabdanya “Tidak seorang pun yang berdoa, kecuali akan dikabulkan.” (HR. Ath-Thirmidzi).

Teman, teruslah berusaha, berdoa, bersabar, serta bersyukur. Jika doamu belum terkabul mungkin itu belum saatnya karena Allah suka dengan tangisanmumu setiap malam. Bahkan percayalah apa yg kita inginkan belum tentu yg terbaik, dan hanya Allah tau mana yg terbaik untuk kita. Jika tidak, Allah pasti memberi yg terbaik, yg kita butuhkan, bukan yg kita inginkan.

Salam seperjuangan ✌💪
Nimas Irfanul Firdausy
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
Yogyakarta State University🎓

“Cinta Pejuang Subuh” di BULETIN ESEMANIS.

Cinta Pejuang Subuh

Pagi itu terasa suntuk, terdiam Ali dikasur mengumpulkan nyawa, ditengok HPnya. Lima panggilan tak terjawab, lima pesan belum terbaca, dibukanya satu persatu yang pasti dari Aisyah pacarnya.

“Astaghfirullah, udah jam tujuh, aku belum solat subuh!” Segera ia berwudhu dan mengerjakan shalat subuh. Tak terhitung berapa kali Ali menguap dalam shalatnya, entah shalatnya dapat dikatakan khusyuk atau tidak. Tak jarang Ali seperti ini, kadang ia shalat saat jam 8, kadang juga shalat di masjid tetapi rakaat terakhir ia terlelap dalam sujudnya.

“Assalamu’alaikum bu, Kenapa ibu tadi nggak bangunin aku sih?” telfon Ali ke Ibunya, Bu Maryam.

“Wa’alaikumsalam. Ibu tadi udah bangunin kamu, kamu udah bilang iya bentar lagi bangun, ya udah ibu tinggal, ibu ada pengajian di Masjid Al Ikhlas nak.” Jawab ibu.

“Ya udah deh Bu, Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam” Ibu Maryam sangat aktif dalam kegiatan pengajian maupun acara islami lainnya. Entah ini Ali anak nemu atau ketuker di Rumah sakit, karena Ali sangat berbeda dengan kakaknya yaitu Akbar.

“Baang, bang Akbar. Lo dimana” Panggil Ali mencari kakaknya di setiap sudut ruangan.

“Apa lo panggil-panggil gue?” sahut Kakaknya dari luar rumah lalu masuk.

“Lo kemana aja kenapa lo nggakajak gue ke mesjid tadi, terus kenapa nih baru pulang?” Percakapan itupun dimulai.

“Apaan, lu kan udah dibangunin Ibu tadi, lama sih gue tinggal aja. Tadi abis shalat ada pengajian jadi gue ikut.” Jawabnya sambil berjalan menuju dapur mengambil air minum.

“Tadi gue kesiangan shalat bang, mana gue ada jadwal les minggu pagi lagi.” curhat Ali mengejar kakaknya.

“Aik.. elu tiap pagi kok kesiangan. Inget dong lu udah kelas 12 bentar lagi ujian. Tiap hari rajin doa lulus lolos di sosmed. Masa shalat 5 waktu aja nelat mulu. Malu dong.” Ceramah kakaknya yang baik hati dan gantengnya nggak ketulungan itu.

“Kenapa? Yang penting kan gue doa bang.” Jawab Ali yang nggak kalah ganteng dari kakaknya itu dengan wajah yang sebel jadi imut gitu ._.

“Deek, sebagai kakak lo yang baik banget ini gue jelasin yaa. Elu minta lulus lolos, diterima di jalur undangan, diterima di fakultas yang elu pengenin, diterima di PTN yang elu banggain, banyak banyet kan elu mintanya. Apa elu nggak malu sama Allah, minta segitu banyaknya tapi perintah Allah buat shalat 5 waktu tepat waktu di mesjid aja di abaikan. Ngerti kan maksud gue.” Bang Akbar ini emang super duper kece terbukti bukan cuma wajahnya kata-katanya aja menyejukkan hati gini beeuuh.

“Iya deh iya ntar dzuhur gue shalat di mesjid, Bang gue mau pamit sekalian lah bentar lagi gue mau ngapel di rumah Aisyah.” Jawab Ali.

“Ali… alii, coba lu ngapel Al Qur’an serajin elu ngapelin pacar!” Sahut kakaknya.

“Ah bilang aja lu syirik bang iri kan lo, salah sendiri sok jomblo nggak mau pacaran sebelum nikah.” Ledek Ali, kaaknya tidak menjawab tetapi hanya tersenyum kepada adiknya itu.

“Assalamu’alaikum… Aisyah… permisi… nyuwun sewu… spada… tok tok tok” teriak Ali dari luar gerbang rumah Aisyah.

“Waalaikumsalam, kebiasaan salam aja udah cukup keleuzt. Al sekarang kan jadwalnya kamu les, kok kamu disini?” Aisyah membukakan gerbang.

“Hehe, aku bangun kesiangan Syah tadi, jadi daripada telat mending aku nggak usah berangkat.”

“Kesiangan? Berarti kamu nggak Shalat Subuh kan?”

“Shalat kok, tadi jam 7.” Jawab Ali sambing mringis.

“Itu bukan Subuh, tapi itu Duha. Subuh aja kamu nggak bisa memperjuangkan, gimana aku nanti.” Gumam Aisyah dengan sedikit marah.

“Ya maaf, besok aku shalat tepat waktu deh.”

“Minta maaf jangan sama aku, tapi sama Allah, jangan ngomong doang tapi juga pake bukti!”

“Iya iya sayang.yuuk jadi nggak nih otewe nya?” Hibur Ali kepada Aisyah.

“Eh iya Al, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Aku kemarin dimarahin mama gara-gara nilai TO ku jelek, kata mama aku keseringan pacaran dan lupa belajar. Jadi aku minta mulai sekarang kita putus ya, maaf banget. Kita bisa balikan lagi kok kalau kita udah lulus. Jadi kita sama-sama focus buat masa depan.” Jelas Aisyah sambil menundukan pandangannya. Ali diam sejenak, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan pelan.

“Iya Syah aku ngerti, nggakpapa kok.” Lalu dia pamit pulang dengan rasa kecewa. Dia terus mengingat pesan Aisyah yaitu “Al shalatnya jangan telat ya, ngajinya jangan lupa, terus berdo’a, semangat belajar, dan semoga sukses ya, Ali.”

Sejak pulang dari rumah Aisyah, Ali melamun dan menyendiri di kamar. Ibunya sering bertanya kepada Ali mengapa sekarang ia seperti ini, tetapi Ali tidak menjawab.

“Nak, kamu kenapa kok sekarang sering melamun seperti ini, ibu kan takut kamu kenapa-kenapa, apalagi kamu mau UN. Sini cerita sama ibu nak!” Malaikat tanpa sayap itu mendekati anaknya, menaruh makan di atas meja belajar Ali, dan mencoba membujuk anaknya untuk bercerita. Tetapi Ali hanya diam saja. Ibu menyuruhnya makan lalu meninggalkannya.

“Benar kata Ibu, gue nggak boleh gini terus cuma gara-gara patah hati, gue harus move on. gue harus semangat, iya bener. Gue harus berubah!” Ali ngomong sendiri di kamarnya sambil makan. Setelah makan tiba-tiba Bang Akbar masuk kamar Ali.

“Bang, Bang Akbar sini bentar deh. Gue mau cerita, sejak gue diputusin Aisyah kok gue jadi patah semangat gini ya bang, gue takut juga kalo gue terus-terusan kaya gini. Gue mau berubah bang, bantuin gue ya please…” Ali bercerita kepada Abangnya.

“Alhamdulillah Adek gue yang ganteng ini mau berhijrah. Mungkin Allah ngasih lu hidayah lewat Aisyah, Elu patah hati kan, mau tau nggak obatnya apa?haha” Jawab Bang Akbar.

“Ya mau dong bang, emang apa obat nya?” Tanya Ali. Lalu Bang Akbar mengambil Al Qur’an dan diberikan kepada Ali, adiknya.

“Sekarang elu wudhu terus baca ini, cepet gue tunggu.” Ali segera berwudhu dan duduk di depan Abangnya untuk mengaji. Ali masih belum lancar mengaji, wajar lah, terakhir Ali mengaji saat ramadhan lalu. Doh Ali ngimpi apa yak dapet abang kaya doi yang sabar dan telaten mengajari adiknya. Sejak saat itu Ali bertekad kudu ikutan ODOJ alias One Day One Juzz.

Allah itu sayang sama umatnya, kadang manusia dikasih cobaan itu bukan buat apa-apa tapi biar manusia itu sendiri mendekatkan diri ke Allah. Mungkin Allah memberi hidayahNya saat kita galau atau sedih, iya emang Allah itu sayang sama kita, lah kita mah apa atuh/?

Hari demi hari berlalu, Ali makin kece aja. Ali mupeng ngajakin abangnya ikut kajian, ceramah, dakwah dll emang bener deh kakak adik yang ini gahool to the max. Bukan Cuma itu, semangat belajarnya Ali membara tiap hari pegang buku, les nggak pernah bolos, minta jadwal les tambahan lagi. Walhasil TO selanjutnya dapet nilai yang super duper yahuuud. Tapiii, mirisnya yang belum berubah atau susah kelakon dari Ali itu ya itu tadi bangun pagi buat pergi ke mesjid. Ali nggak akan bangun kalo belum di siram pake air seember sama abang atau ibunya.

“Bang gue masih ngantuk sempeeh, mata gue susah melek, tidur enak kalik ya bang.” Nerocos Ali di Jalan Menuju Masjid Agung Bantul.

“Iya elu susah melek, soalnya itu setan nempel dimata lu biar lu nggak solat subuh. Elu sih dibilangin mau tidur itu wudhu nggak di dengerin.” Ceramah Abangnya. Sampai lah di Masjid Agung Bantul sesegera mereka berwudhu dan duduk di shaf paling depan menunggu iqamah. Bang Akbar sih solat sunnah dulu, laah adiknya? “Mumpung nih, mending gue nge-Path” Kata Ali dalam hati, dengan segera ia mengeluarkan aipon dari sakunya dan update Path “Kalo lu cowok masih solat di rumah, mending lu pake mukena aja deh. Haha” Tidak lupa ia mencantumkan location “i’m at Masjid Agung Bantul.” Dalam hati ia juga menggerutu “Liat tu syah nyesel dah lu mutusin gue.”

“Ampun dah, dek lu solat di mesjid mau pamer apa mau ngapain ha?”

“Ya elah bang, hari gini mah apa apa kudu update, biar nggak ketinggalan jaman keles!”

“Dek be careful okaaay, jangan sampai yang kita lakuin itu jatuh ke riya’, inget deh QS An Nisa:142 yang artinya Sesungguhnya orang-rang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ ( dengan shalat itu ) dihadapan manusia, dan tidaklah mereka dzkir kepada Allah kecuali sedikit sekali.” Ali tertunduk dengan rasa bersalah mendengar abangnya menjelaskan apa itu riya’. Alhamdulillah Ali tersadar dan mengakui kesalahannya. Bang Akbar maju kedepan untuk mengumandangkan iqamah… Ahaay mak klakep mesjid itupun hening berjamaah mendengar suara merdunya Bang Akbar, suara Muhammad Toha Al Junayd kw super. Seusai Shalat Subuh Ali terduduk silo, ia menundukan kepalanya. Ia berdo’a meminta ampunan kepada Allah atas segala kesalahan yang disengaja ataupun tidak.

Hari-hari berikutnya, jangankan alarm hp, adzan subuh aja udah membangunkan Ali dari tidurnya. Dengan cepat bersiap-siap menggunakan baju koko+sarung, disisir rambutnya seklimis mungkin dan tidak lupa memakai peci. Alamaaak gantengnya Ali ini udah kaya Aliando Surip aja *eh :v sekarang malah Ali yang nungguin Abangnya. “Kzl kzl kzlek, lama amat sih lu bang . Udah ah ayo.”

Hari H tiba, hari dimana SMA/SMK/MA/MAK sederajat melaksanakan UN. Sebelum berangkat Ali meminta doa rastu dari Ibu dan Abangnya, dipeluknya, dicium tangan keduanya. Selama dan setelah ujian ia tak henti-hentinya kewajibannya iya tak lupa, ditambah lagi puasa senin kamis, ia juga tidak pernah menanggalkan solat duha dan tahajudnya, bukan hanya itu sedekahnya ditambah pula. Alhamdulillah, berkat itu semua doa Ali diijabah Allah, Ali lulus dengan nem yang memuaskan. MasyaAllah, Allahuakbar Ali juga lolos SNMPTN di UGM dengan fakultas yang diinginkannya.

“Ibu, Abang. Ali lolos SNMPTN!” dengan air mata yang mengucur deras Ali mencari keluarganya. Dicarinya di setiap sudut ruangan ternyata tidak ada seorangpun yang ada. Di masukinya kamar Bang Akbar. Kamar yang tertata rapi mirip banget kaya kamar barbie, tumpukan bukunya itu lhoo, mungkin kamarnya Albert Ensten dulu kaya kamarnya Bang Akbar, walhasil bertemulah Ali dengan Bang Akbar, dan Ibu bertemu di dapur yang ternyata sedang membuat kue tart.

“Barakallahu fii umrik, Ali” Saking deg deg-annya menunggu hasil SNMPTN Ali lupa kalau hari ini ulang tahunnya.

“Ya Allah Ali lupa kalau hari ini Ali ulang tahun. Ibu, Abang, Ali lolos SNMPTN tau ndak sih.” Matanya berkaca-kaca.

“Udah tau keles, gue sama Ibu juga punya kejutan loh.” Jawab Bang Akbar. Sambil mempersilakana masuk seorang Aisyah yang cantik jelita.

“Al, kita kan udah lulus, udah kuliah juga, sekarang aku mau kok kalo kita pacaran lagi. Hehe” Kata Aisyah. Ali kaget seketika. Dilihat abangnya Cuma senyum senyum aja, dia inget kata abangnya kalo pacaran itu, ya gitu itu…

“Maafin aku Syah, bukannya aku udah nggak sayang lagi sama kamu, tapi aku belum cukup apa-apa, aku mau memantaskan diri, memperbaiki diri dulu sebaik-baiknya, aku juga ndak mau pacaran aku takut dosa, gimana kalau kita sahabatan aja? Aku pengen jadi kayak Ustadz Molana dulu, aku doain kamu juga ntar jadi kayak Ustadzah Oki Sektiana Dewi” Bujuk Ali. Aisyah pun mengiyakannya lalu tertawa mengisyaratkan iya, aku ngerti.

NimasIF/XI MIA 4

Sesi Sharing sama Mama Ayah.

“Kak, besok kuliah mau ambil apa?” tanya Ayah disela-sela waktu saat makan. Nimas bosen yang hampir tiap hari disodorin pertanyaan kayak gitu. Apa Ayah ndak liat mukaku waktu Ayah tanya pertanyaan kayak gitu? Padahal Nimas udah pasang muka ngenes-sengenes-ngenesnya yg menandakan ‘Yah, please jangan tanya itu-itu mulu’.
“Belum tau Yah, masih bingung.” Sekenanya aku jawab. Ayah nyambung tuh ‘Lha piye toh kok masih bingung, Kakak ini udah naik kelas 3 lho, udah mau ujian, kuliah …..’ tau sendiri lah seterusnya ya gitu. Ndak salah sosok ayah tanya apa cita-cita anak perempuan yg disayanginya.
“Emang kakak besok cita-citanya mau jadi apa?” Mama ikutan ngajuin pertanyaan yg sering diucapkan dan sering juga nimas jawab.
“Cita-citanya ya jadi perempuan sholihah to ma, biar jadi sebaik-baiknya investasinya mama sm ayah di akhirat.” Jawaban sama yg sering terucap itupun terucap kembali.
“Kalau itu udah pasti selalu mama sm ayah doain nak. Maksudnya, besok kakak mau kuliah dimana? ambil jurusan apa? apa mau mondok?”
opo arep tak rabekke wae kak?” Eiiitttdaah ini Ayah malah nyambung ginian -_-
Sebenernya ndak salah sih sepasang orang tua yang tanya “Besok mau kuliah dimana, jurusan apa?”, “Besok cita-cita nya mau jadi apa.” Itu pertanyaan yg wajar kan dari orang tua ke anak.
Yang salah itu justru Nimas, heuuu. Sampe saat ini masih bingung besok kalau udah lulus mau ambil apa. Mondok? sebenernya pengen sih tapi. Ahh, terus siapa yg bakal jagain Mama sama Ayah? Mba Dinda udah kuliah di Surabaya ngejar cita-citanya sebagai ‘Dokter gigi’ di Unair, Adek udah mondok juga mau jadi ‘Hafiz’ katanya. Saya merasa jadi anaknya mama ayah yg terbodoh saat itu. Mba Dinda dari kecil sudah menegaskan ‘besok aku mau jadi dokter’, adek yg udah kepengen banget memberikan mahkota kemuliaan pada kedua orangtua. Nah, diriku?
Pertanyaan Ayah sama Mama yg kayak gitu sebenernya justru membebani Nimas. Gimana enggak? Nimas belum tau besok mau jadi apa dan lebih tepatnya Nimas malu bilang besok mau jadi apa.
Pernah sebelumnya sharing sana sini, googling ini itu tentang ‘Bagaimana caranya menentukan cita-cita?’

Ada yg bilang coba aja ambil dari pelajaran apa yang paling kamu sukai. Semua pelajaran aku suka kok, tergantung gurunya tapi hehe. Tapi nggak deh kalo tentang pelajaran, soalnya Nimas ini termasuk orang yang ‘gampang depresi, pemikir, dan mudah stress’ gimana enggak? tiap mau ulangan, ujian, olimpiade kemarin juga pasti ada aja gangguannya kadang men*ret, Susah BAB, Maag kambuh, muntah-muntah, panas, pokoknya ada aja masalah kayak begituan. Soalnya nimas pemikir suka mikirin apa yg seharusnya nggak dipikirin, nimas mikir gimana kalau ntar ujiannya ndak bisa, gimana kalau nilainya jelek, gimana kalau nimas ndak naik kelas. Dan itulah yang bikin stress, bikin nangis sendiri, dan yang paling gawat nyalahin diri sendiri. Tjukup.

Nimas sebenernya pengen jadi orang yang bermanfaat untuk oang lain. Bhaaak, itukan cita-cita sejuta umat? oke tolong di amin kan ketika membaca post ini.

Seakan orangtua ngerti. Mama bilang tiap orang udah ada nasibnya masing-masing, tiap orang juga pasti punya kurang lebihnya masing-masing, jadi nggak boleh minder apa gengsi.
Ayah juga bilang kalau anaknya ayah itu semua bebas memilih apa cita-citanya, mau jadi apa, kuliah dimana jurusan apa. tugas orangtua ya itu membantu anaknya biar bisa ngeraih apa yg diinginkan.
Mama sama ayah nggak akan beda-bedain anak, semuanya disayang, semuanya didukung apapun cita-citanya.
Saat itu juga, Nimas ngerasa jadi anak yang paling beruntung di dunia. Aaaa speechless Mama, Ayah ❤

Introduce My Self

Assalamu’alaikum yaa Akhi yaa Ukhti ^^ Apa kabar? semoga sehat dan selalu dalam lindungan Allah 🙂 Perkenalkaan nama saya Nimas Irfanul Firdausy bisa dipanggil Nimnim atau Nimas lahir di Surabaya, 04 April 1998. Anak dari Mama Chusnul Chowatin, dan Ayah Muhammad Irfain. Anak kedua, punya Adik satu namanya Helmy Ikbar Muhmmad Aden, juga punya kakak satu Adinda Irfanul Faradisa. Ada yg jadi anak tengah juga ndak ya? sungguh hebat dikaau, kenapa gitu? disitu anak kedua bisa ngerti kapan jadi adik juga kapan jadi kakak. Haha. Sekarang tinggal di Jogja. Pas nulis ini sih udah SMA di SMAN1Jetis, di kelas XI MIA 4. Tau kan sekolahnya? Ituu lho Sekolah Adiwiyata Mandiri yang ada di Jogja ._.

Suka nulis, suka cerita, agak cerewet sih hehe, makanya itu saya berusaha sekuat mungkin biar apa yang keluar dari mulut atau pikiran ndak kebuang gitu aja tanpa manfaat. Nimas sih bisa dibilang lebay atau mungkin alay wkw. Jadi jangan kaget ya Ukh, Akh kalau tulisan tulisan selanjutnya alay gitu. Heuuu Ingetin Nimas juga ya kalau tulisan nimas ada yang nyeleneh, anah, ndak bermanfaat, menyinggung, ataupun ndak layak terbit, mohon diingatkan, karena Nimas masih amatiran.

Blog baru nih, hasil dari mengikuti zaman dan belajar berbagi semoga bermanfaat. Sebenernya nimas udah punya blog sebelumnya, sebelumnya lagi juga udah punya blog, sebelum sebelumnya lagi juga udah punya hehe. Walhasil Nimas terlalu gaptek jadi ya gitu, bisa buat tapi bingung makenya. Blog-blog sebelumnya itu Blog*er loh ya bukan WordPress. Blog pertama iseng bikin, terus jarang buka jadi lupa password, jadi daku memutuskan untuk membuat ulang. Blog ke dua oke deh udah ada tulisannya satu, ketika nimas buka blog lain beuuh kok blognya pada cantiq kece gitu, pengen deh tuh nimas punya blog yg kece tapi karena Nimas gapteknya ndak ketulungan, mutung deh ndak bisa ngotakatik blog biar cantiq. Blog ke tiga udah bisa dibilang kiyuut lah tulisannya juga ada satu dua tigaan, seiring berjalannya waktu Nimas bosen karena ndak tau banget fungsi blog itu apa sih, jadi males deh.

Dipikir-pikir lagi kan enak kalau punya blog, bisa cerita disitu, sharing disitu, yups kayaknya seru! Sebelumnya Nimas juga dapet saran dari Tante @NurulRahma buat beralih ke wordpress yang kata beliau lebih mudah, juga setelah Nimas mantengin blognya Tante Nurul http://bukanbocahbiasa.com/ Nimas semakin mikir ~tuuukaan seru kan kalau ngeblog~ jadi Nimas bikin Blog ini, ndak perlu blog yg kece kece gitu deh elegan tapi isinya inspiratif udah cukup. Yaaa semoga blog saya isinya itu hehe. InsyaAllah, doakan Nimas biar semangat ngeblog, biar ndak bosen ngeblog, biar ndak lupa password hehe. InsyaAllah juga semoga isi blog ini bisa bermanfaat buat orang lain, dan menghibur orang lain. Salaam kenal ^^ buat “ukhti” yang mau kenalan lebih lanjut bisa di @NimasIF ya, biar kita bisa sharing dan menjalin ukhuwah 🙂

Wassalamu’alaikum Wr.Wb ^^

Yuk ngeblog!

Apa yang Kau Tinggalkan Setelah Mati?

Beruntunglah orang yang menulis. Beruntung karena mereka tidak melewatkan begitu saja detik-demi detik kehidupannya. Mereka tidak membiarkan pemikiran yang dihadiahkan oleh Tuhan berlalu begitu saja. Mereka mencatatnya, membaginya, hingga membuatnya menjadi sesuatu yang bermakna bagi diri sendiri maupun buat orang lain.

Miliki motivasi untuk berbagi. Percayalah, ilmu, wawasan, pengalaman, sekecil apapun, jika dibagi, ia akan berdampak luas. Menebarkan inspirasi kebaikan adalah sebuah kemuliaan jika kita meniatkannya mengharap balasan dari Tuhan. Sekata tulisan kebaikan yang ditebar, tetaplah bernilai sedekah. Sekata tulisan keburukan yang disebar, tetaplah bernilai dosa. Maka tebarlah seluas mungkin kalimat-kalimat kebajikan.

Ibnu Al-Jauzi dalam Shaid Al-Khaatir pernah mengungkapkan: Apabila seseorang telah meyakini bahwa kematian akan menghentikannya dari beramal, pasti ia akan mengerjakan sesuatu yang pahalanya mengalir pasca kematiannya. Ia akan:
· Mewakafkan harta
· Menanamkan tanaman
· Menggali sumur
· Mengusahakan keturunan yang akan mengingat Allah sepeninggalnya, hingga ia pun memperoleh pahala darinya
· Atau menulis buku.

Betapa indahnya jika saat itu Allah menjawab, “Ya, benar, kebaikanmu tak sebanyak itu. Tapi ribuan orang terinspirasi berbuat kebaikan setelah membaca karya-karyamu. Beragam amalan sunnah terkerjakan setelah mereka membaca kalimat yg hadir dari jemarimu”.

“Menulis adalah bekerja demi keabadian.Barakallah :)”

kart